Tuesday, January 16, 2007

assalamualaikum world


this post aku pengen ngobrol ringan mengenai arsitektur kota, susunan gambarnya mungkin agak kacau soalnya agak ribet ngatur gambar di blog ini, but it doesn't matter! so lets talk!!!


ARSITEKTUR KOTA

Reklame ciri kha

s kota Modern

Menanggapi Jl. Slam

et Riyadi bebas reklame 2007

Reklame adalah bagian dari sign dalam elemen perkotaan. Keberadaannya sudah tidak dapat dipisahkan dari keberadaan kota modern. Dari sudut pandang Arsitektur Kota, reklame berpengaruh kuat pada penampilan fisik suatu kota. Keberadaannya dapat memberikan warna yang semarak bahkan dapat menambah k

eindahan suatu kota. Namun di sisi lain reklame juga bisa berpengaruh negatif terhadap penampilan suatu kota, misalnya dapat menimbulkan ketidaktertiban dan ketidakrapian kota.

Dipandang dari segi Arsitektur, di Kota Solo ini keberadaan reklame justru berdampak negatif. Penataannya yang tidak teratur me

nimbulkan kesan semerawut dan tidak rapi. Sering kali reklame juga menghalangi/mengganggu elemen-elemen kota lain yang lebih penting seperti jalur hujau, rambu-rambu lalulintas, dsb. Sebagai contoh hal ini terjadi di kalan Slamet Riyadi, jalan utama kota Solo yang menjadi Central Bussines District (CBD) di kota Solo. Gambar di bawah ini adalah gambaran reklame di jalan Slamet Riyadi yang sedang mendapatkan banyak kritik dan sorotan saat ini.



Sebagai respon pemerintah kota, pada tahun 2007 ini rencananya jalan Slamet Riyadi akan dibersihkan dari reklame. Dijelaskan wali kota solo Joko Widodo dalam seminar ''Peran Humanitas dalam Mengatasi Krisis Bangsa'' dalam rangkaian Lustrum VI UNS 2006, hal ini bertujuan untuk mewujudkan keter

tiban dan kerapian di kota solo. Sebagai konsekuensinya pemerintah harus kehilangan pajak reklame lebih dari Rp. 350.000.000,-/bulan atau skitar 5 M per tahun.

Rencana pemerintah ini perlu dipertimb
angkan kembali secara bijaksana. Ma

ngacu pada teori Arsitektur modern, bah

wa Arsitektur

yang baik harus memenuhi aspek

-aspek : keindahan, fungsi, kekuatan serta tidak mengabaikan masalah

ekonomi. Jika ditinjau lagi, di kota Solo ini masih banyak pemukiman kumuh, penduduk miskin, bangunan-bangunan liar, PKL, dll yang keberadaannya jauh lebih membuat kota ini menjadi tidak tertib dan tidak rapi jika diba

ndingkan dengan keberadaan reklame di jalan Slamet Riyadi. Sel

ain itu peniadaan r

eklame

di jalan Slamet Riyadi juga tidak akan banyak merubah wajah kota Solo. Terbukti setelah munculn

ya isu peniad

aan reklame ini sekara

ng banyak bermunculan reklame-rekl

ame baru yang dipasang di luar jl. Slemet Riyadi, seperti : di jalan Ir. Sutami, jl. Adi Sucipto dan di sekitar Terminal Tirtonadi. Hal ini cukup membuktikan bahwa kebijakan pemerintah ini tidak akan memperbaiki keadaan tapi justru akan memunculkan

masalah di sisi kota lainnya.

Dapat kita bayangkan apabila APBD sebesar 350 juta tiap bulan digunakan untuk menertibkan pem

ukiman liar atau untuk membuat s

helter bagi pedagang kaki lima atau untuk revitalisasi pemukiman kumuh atau memp

erbaiki pedestrian dan lain – lain, tentu akan berdampak lebih positif bagi kota Solo.

Permasalahan yang sebenarnya bukanlah keberadaan reklame di kota Solo melainkan penataannya yang kurang baik.

Jadi solusi yang tepat adalah penataan

reklame yang baik di seluruh kota solo.

Berikut ini adalah rekomendasi penataan reklame di jalan Slamet Riyadi

1. penempatan Reklame

Reklame tidak boleh ditempatkan melintang di jalan, di jalur hijau dan tempat-tempat lain yang mengganggu kenyamanan dan fungsi

atribut kota yang lain.

Solusi tempat untuk reklame antara lain di :

a. Pada dinding/bagian bangunan.

Reklame di pasang pada dindin

atau bagian bangunan lain sehingga tidak

memakan tempat dan tidak mengganggu fungsi lain. Konsep seperti ini telah banyak diterapkan di negera – negara maju. Seperti contoh di samping adalah gambar salah satu view di kota Tokyo, reklamenya begitu banyak tapi tetap tidak terkesan semerawut.

b. pada kendaraan umum

badan kendaraan umum juga dapat manj

adi alternatif yang cukup menarik. Misalnya reklame dipasang pada badan bus kota, angkot, truk dan kereta.

c. pada elemen kota lain

reklame juga dapat ditempelkan pada elemen kota lain asalkan keberadaannya tidak mengganggu fungsi asli elemen kota tersebut. Misalnya pada tempat sampah, halte bus bahkan di lantai pedesrtrian/trotoar.

2. standarisasi reklame

Jalan slamet riyadi merupakan jalan utama sekaligus Central Bussines District (CBD) di kota solo harus memiliki standar yang membatasi reklame yang ada di dalamnya. Misalnya mengenai ukuran dan jumlah reklame tersebut.

3. Pengkonsepan Reklame

Jalan Slamet Riyadi adalah jalan utama yang menjadi cermin dari kota Solo sebagai kota budaya (jawa), serta letaknya jag berdekatan dengan Keraton Kasunanan dan Mangkunegaran yang menjadi pusat kebudayaan Jawa. Maka setiap reklame di jalan ini diharapkan mampu memasukkan konsep yang menjadi ciri khas kota Solo, terutama budaya Solo.



hemm... semoga anda ga bingung membacanya.... smart man must be responsive!! so, i wai for ur coment....

1 comment:

hestijatiningsih said...

setuju konsep penataan reklame di solo terutama di kawasan bisnis..kawasan bisnis (kawasan perdagangan) tidak bisa lepas dengan yang namanya reklame karena saling berkaitan..bisa juga dalam desainnya dimasukkan kekhasan solo (kayak batik dan semacamnya)..diharapkan reklame tidak mengganggu visual kawasan namun mampu mendukung visual kawasan tersebut